MAAHADMUHAMMADI – Fenomena gerhana Matahari cincin 2026 menjadi salah satu peristiwa astronomi yang paling dinantikan para pengamat langit.
Berdasarkan data astronomi global, gerhana ini akan terjadi pada 17 Februari 2026, ketika posisi Matahari, Bulan, dan Bumi sejajar sehingga piringan Bulan tampak lebih kecil dan menyisakan cincin cahaya di tepi Matahari.
Gerhana Matahari cincin terjadi karena Bulan berada pada jarak yang relatif lebih jauh dari Bumi (dekat fase apogee), sehingga tidak mampu menutupi seluruh permukaan Matahari. Akibatnya, terbentuklah efek “ring of fire” atau cincin api yang menjadi ciri khas fenomena ini.
Secara global, puncak gerhana diperkirakan terjadi sekitar pukul 12.13 UTC. Pada fase ini, cincin Matahari terlihat paling sempurna di jalur utama gerhana. Durasi fase cincin di titik tertentu bisa berlangsung sekitar dua menit, tergantung lokasi pengamatan.
Namun, waktu pengamatan di setiap wilayah akan berbeda karena dipengaruhi zona waktu dan posisi geografis.
Jalur cincin atau annularity path pada 17 Februari 2026 dipastikan hanya melintasi wilayah Antartika. Artinya, fenomena cincin sempurna tidak dapat disaksikan dari Indonesia.
Meski begitu, gerhana Matahari sebagian masih bisa terlihat di beberapa wilayah, seperti:
- Bagian selatan Amerika Selatan (Argentina dan Chile)
- Afrika bagian selatan
- Madagaskar dan wilayah Samudra Hindia selatan
Sayangnya, posisi Indonesia tidak masuk dalam area pengamatan, baik untuk gerhana cincin maupun gerhana sebagian.
Bagi masyarakat yang berada di wilayah yang dilalui gerhana, pengamatan harus dilakukan dengan alat khusus seperti kacamata gerhana bersertifikat atau teleskop dengan filter Matahari. Melihat Matahari secara langsung tanpa pelindung dapat menyebabkan kerusakan mata permanen.
Gerhana Matahari cincin ini juga menjadi bagian dari musim gerhana 2026 yang akan diikuti oleh gerhana Bulan total pada 3 Maret 2026 dan gerhana Matahari total pada 12 Agustus 2026.